"Firman, malam ini nginep di rumah bibi aja," ucap bibiku saat aku berkunjung ke rumahnya.
Bibiku bernama Rania. Aku memanggilnya Bi Rani atau Tante Rani. Ia adik dari ayahku. Umurnya sekitar 30 tahun lebih dan memiliki satu anak. Badannya tinggi, agak langsing. Namun, dada yang lumayan besar, pinggul yang indah dan wajah yang cantik.
Hari itu, aku berkunjung ke rumah bibi, karena ada keperluan keluarga. Tante Rani menyambutku dengan ramah dan baik. Waktu kecil pun aku sering diasuh olehnya. Tante Rani sangat baik padaku.
"Kemana Om Farhan," tanyaku.
"Mas Farhan ada tugas keluar kota, sudah dua hari," jawab Tante Rani.
"Nginep disini aja ya, sudah lama kita enggak ketemu. Firman juga jarang kesini," sambungnya.
"Iya Tan," jawabku.
Malamnya, kami ngobrol di ruang Tv. Anaknya Tante Rani sudah tidur. Tante Rani memakai baju daster tipis dan ketat. Pahanya begitu mulus dan indah. Saat aku memperhatikan paha dan dadanya, Tante Rani cuek seolah bangga memamerkan paha dan dadanya.
Malam itu hujan turun dan sangat deras. Saat listrik mati, tanteku yang takut kegelapan itu tiba-tiba berteriak dan memelukku. Kurasakan toketnya menempel di dadaku. Aku mencoba menenangkan Tanteku, tapi ia terus memeluk dan ketakutan.
Aku menyalakan ponselku dan Tante kembali tenang. Aku saat itu sudah terpancing napsu. Aroma tubuh tanteku dan empuknya toket Tante membuat pikiranku kacau. Ingin rasanya onani, saat itu.
"Tan, aku mau tidur, ya," pamitku.
"Firman, tidur di kamar Tante, aja. Tante takut kalau tidur sendiri. Si Alif kayaknya sudah tidur juga," jawab tante, mengajakku tidur di kamarnya.
Alif adalah anak tanteku yang umurnya 5 tahun.
"Beneran Tan, aku tidur di kamar Tante." Aku tidak percaya ajakan tanteku.
"Iya, temenin tante ya," jawabnya.
Aku pun menuruti dan malam itu, aku tidur di kamarnya. Kami tidur bersebelahan dengan satu selimut. Pikiranku kacau, ingin rasanya memeluk tubuh tanteku yang wangi itu.
Secara tiba-tiba, Tante memelukku, saat aku berbaring. Aku mencoba bersikap biasa dan cuek. Akhirnya Tante tertidur di pelukanku. Aku mencoba mencium pipinya dan membelai rambutnya. Napsuku semakin membara dan kontolku sudah tegang.
Karena napsu sudah menguasaiku, aku remes toket tanteku yang lumayan besar dan tanteku tidak memakai BH. Aku ciumi lehernya. Terdengar napasnya semakin tidak beraturan. Namun Tante Rani masih memejamkan mata.
Tiba-tiba, Tante Rani membalikkan badan membelakangiku dengan posisi Tante tidur miring. Aku memeluknya dari belakang dan menempelkan kontolku pada pantatnya yang lumayan semok itu. Kuangkat bagian bawah dasternya. Terlihat pantat tanteku yang indah dengan celana dalam putihnya.
Napsu sudah di ubun-ubun. Kupelorotkan celana dalamnya dengan lembut, ia masih tertidur. Entah pura-pura tidur atau beneran tertidur, aku tidak peduli. Ku buka celana pendekku dan kutempelkan kontolku yang sudah tegang pada memek tante Rani lewat belakang saat posisi Tante tidur miring. Aku mencari lobangnya, tapi tidak kutemukan. Aku hanya menempelkan. Entah pada memeknya atau pada pantatnya. Terasa hangat dan enak saat kontolku menempel.
Aku pun kembali meremas toketnya dan menciumi leher, pipi dan rambutnya. Saat aku sibuk menciumi leher dan rambutnya, tiba-tiba tanteku memegang kontolku yang sudah tegang. Ia memegang kontolku dan menempelkannya pada lobang memeknya lewat belakang dengan posisi Tante masih tidur miring Membelakangiku.
Kucoba memposisikan diriku supaya lebih nyaman dan supaya kontolku lebih mudah masuk pada lobang memeknya. Secara perlahan kudorong kontolku yang sangat tegang. Memek bibiku sudah basah dan terasa hangat dan nikmat. Kepala kontolku sudah bisa masuk ke memeknya. Terasa begitu nikmat dan hangat. Kenikmatan yang luar biasa yang tak bisa ku jelaskan dan kutulis dalam cerita.
Napsuku semakin tidak tertahan. Kumasukkan lebih dalam lagi kontolku pada lobang kenikmatan tanteku. Kudengar Tante Rani sedikit mengerang saat kontolku menembus memeknya yang sudah basah itu. Memeknya seolah memijit dan menggigit-gigit halus kontolku. Kucoba mengocoknya dengan pelan dan memegang bagian atas memeknya. Ternyata memeknya berbulu tipis saat aku pegang bagian atasnya.
Aku mengocok kontolku di memek Tante dengan posisi tubuh tante tiduran miring membelakangiku. Terasa nikmat luar biasa saat aku menggerakkan pinggulku dan mengocok kontolku pada memeknya.
"Oh, oh, ssst, oh, oh, ah, sssst, ssst, oh." Akhirnya kudengar Tante Rani mendesah. Desahan yang indah melebihi desahan indah artis bokep negri sakura.
Tante mendesah dengan mata masih terpejam. Mungkin ia pura-pura tidur.
Kukocok lebih kencang dan terus kunikmati kenikmatan yang luar biasa itu. Memeknya semakin basah dan semakin menggigit dan memijit-mijit kontolku. Aku masukan lebih dalam pada memeknya dan tubuh tanteku seperti mengejang.
"Oh, ooh, aah, ssst, ah, aaaah." Itulah desahan sedikit pelan yang kudengar dari mulut tante, saat badannya mengejang.
Kuraskan kontolku tersiram cairan hangat di dalam memek Tante. Memeknya menyemprotkan cairan lumayan banyak, berbarengan dengan tubuhnya yang mengejang dan mulutnya mendesah. Apakah tanteku Orgasme mencapai puncak kenikmatan? Entah lah.
Setelah ku nikmati semprotan memek Tante yang nikmat itu, kembali ku lanjutkan kocokanku. Kocokanku semakin kencang dan agresip. Kembali kudengar erangan dan desahan dari mulut tante. Saat tanganku memegang bagian atas memeknya, tersentuh olehku itilnya yang menonjol dan bulunya yang tipis. Kumainkan itilnya sambil terus kukocok memeknya dengan kontolku yang lumayan besar dan sangat tegang.
Beberapa menit kemudian, badanku mengejang nikmat dan kontolku ingin mengeluarkan sesuatu. Ku percepat kocokanku dan akhirnya aku pun tak sanggup menahan badai orgasme bada diriku. Kumasukkan lebih dalam kontolku pada memeknya.
"Crooooot, Croooot, crooot, croot, crot, creet, cret, cret." Kontolku menembakan sperma di dalam memek seksi tanteku.
"Ooooh, oooh, ah, ah, ah," erangan dan desahan tanteku, saat menerima tembakan spermaku di memeknya.
Aku pun merasakan puncak kenikmatan luar biasa dan tubuhku lemas. Kembali kupeluk tanteku dari belakang dengan posisi kontolku masih tertancap di memeknya. Memeknya kembali seperti memijit-mijit kontolku. Terasa nyaman saat itu. Kurasakan spermaku keluar dari memek tanteku, meski kontolku masih tertancap di memeknya.
"Aku yakin, Tante hanya pura-pura tidur. Ia pasti juga menikmati kenikmatan bersetubuh denganku," gumamku.
Karena badan lemas, aku pun tertidur dengan posisi memeluk Tante dari belakang dan kontolku masih menancap di memeknya.
Saat subuh, aku pun terbangun dengan posisiku telentang dan kontolku tidak menempel pada memek Tante. Kulihat Tante Rani masih tertidur telentang di sampingku dengan posisi daster masih terangkat dan terlihat memeknya yang berbulu tipis tanpa tertutup selimut.
"Memeknya indah banget," bisikku saat melihat memek tanteku itu.
Aku memegang memeknya dan kumainkan jariku di lobang surgawi itu. Memeknya masih basah dan sedikit berbau amis. Tubuh Tante seperti mengejang saat kumasukkan jari ke memeknya.
Kembali ku posisikan tanteku tertidur miring dan kembali ku entot tanteku dengan posisi miring seperti semula.
"Ah, ah, ah, oh, oh," desahnya.
Setelah aku puas, aku bersihkan memeknya dari spermaku dan kembali ku pakaikan celana dalamnya, lalu aku tertidur.
Besoknya saat pagi, Tante bersikap biasa padaku, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, hatiku masih yakin bahwa semalam Tanteku hanya pura-pura tidur dan ia menikmati persetubuhan denganku. Pagi itu Tante terlihat begitu gembira dan bahagia.
"Kapan-kapan nginep lagi, ya, Firman," ucap tanteku padaku dengan tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar